Dalam sejarah penulisan di Indonesia, terdapat tarik-ulur yang dinamis antara narasi yang diciptakan oleh pemerintah, elit politik, serta kecenderungan akademis dan aspirasi masyarakat. Dengan memberikan review buku Gagalnya Historiografi Indonesiasentris?! karya Bambang Purwanto ini, harapannya bisa menjadi tonggak penting dalam memahaminya lebih lanjut.
Di tengah berbagai wacana penulisan ulang sejarah nasional yang resmi digulirkan pemerintah dan DPR RI sejak 2025, karya ini menjadi sumber refleksi dan diskusi yang sangat relevan bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan, peneliti, dan pembuat kebijakan.
Identitas Buku
- Judul: Gagalnya Historiografi Indonesiasentris?!
- Penulis: Bambang Purwanto
- Bahasa: Indonesia
- Genre: Sejarah, Historiografi, Akademik
- Penerbit: Ombak (Edisi utama 2006), sesuai katalog digital dan universitas
- Jumlah Halaman: ±300
- Edisi terbaru: Sampai tahun 2025, belum ada revisi edisi baru namun relevansinya sangat kuat di tengah wacana penulisan ulang sejarah Indonesia.
Daftar Konten
Sinopsis & Analisis Isi Buku

Buku ini mengupas tuntas kegagalan proyek historiografi yang berfokus pada Indonesia, yaitu usaha menulis sejarah Indonesia melalui lensa perspektif bangsa sendiri. Proyek ini pada mulanya dimaksudkan untuk menghapus bias kolonial dalam narasi sejarah. Namun dalam praktiknya, Purwanto menyoroti bahwa semangat Indonesiasentris justru terjebak pada sejumlah persoalan baru:
- Ketergantungan pada Sumber Resmi dan Narasi Elite
Bambang Purwanto menyoroti bahwa penulisan sejarah Indonesia banyak bergantung pada dokumen kolonial dan kepentingan politik, sehingga suara rakyat, kelompok minoritas, dan pengalaman masyarakat lokal sering terabaikan. Ia menegaskan pentingnya menggali sumber alternatif—sumber lisan, arsip lokal, dan narasi komunitas. - Politik Penulisan Sejarah
Sejak Orde Baru, penulisan sejarah seringkali diarahkan sebagai alat legitimasi negara, dengan tujuan memperkuat narasi heroik dan kepahlawanan semata. Konsekuensinya, banyak peristiwa kontroversial (seperti konflik, pelanggaran HAM, dinamika sosial minor) dikesampingkan demi penyeragaman narasi sejarah nasional. - Kritik terhadap Historiografi Indonesiasentris
Purwanto menggarisbawahi bahwa upaya penulisan sejarah dari sudut pandang Indonesia belum sepenuhnya “bebas” dan kritis. Historiografi sering kali hanya membalik sudut pandang kolonial tanpa disertai refleksi mendalam atas kegagalan, luka, dan dinamika sosial bangsa sendiri.
Kelebihan Buku
- Refleksi Kritis dan Berani
Purwanto membongkar mitos nation-building dalam penulisan sejarah. Ia mengajak pembaca membuka ruang bagi luka sejarah, konflik, pengalaman minoritas, serta narasi alternatif yang sebelumnya disembunyikan. - Referensi Utama Akademik
Buku ini menjadi sumber utama penelitian, diskusi seminar, dan kajian sejarah nasional. Digunakan oleh berbagai universitas dan lembaga pendidikan sebagai acuan wajib penulisan ulang sejarah Indonesia. - Inklusivitas dan Alternatif Sumber
Buku ini menyoroti betapa vitalnya untuk mengadopsi narasi kelompok minoritas, masyarakat adat, penyintas konflik, dan pelaku sejarah yang terpinggirkan, demi membangun historiografi yang benar-benar inklusif dan adil. - Memancing Dialog dan Diskusi Publik
Purwanto menekankan bahwa langkah-langkah dalam penulisan ulang sejarah harus melibatkan uji publik, diskusi antara berbagai pemangku kepentingan, serta partisipasi aktif masyarakat. Hal ini penting dalam menentukan sumber, tema, dan narasi utama yang membangun pemahaman sejarah yang lebih komprehensif.
Kekurangan Buku
- Bahasa Akademis Mendalam
Gaya penulisan yang sarat metodologi dan istilah ilmiah membuat buku ini lebih cocok untuk pembaca tingkat lanjut/akademisi. Pembaca awam harus meluangkan waktu ekstra untuk memahami argumentasi yang dibangun. - Fokus pada Kritik dan Refleksi
Buku ini lebih banyak menawarkan refleksi, kritik, dan dekonstruksi daripada memberikan panduan langsung bagi penulis pemula atau penggiat literasi sejarah. - Distribusi Edisi Cetak Terbatas
Untuk edisi terbaru, distribusi buku kini lebih banyak tersedia di lingkungan kampus dan toko buku pendidikan, meski masih belum menjangkau secara luas di toko buku populer.

Relevansi Terhadap Proses Penulisan Ulang Sejarah Indonesia
Di tahun 2025, Indonesia resmi memulai inisiatif penulisan ulang sejarah nasional. Proses ini dipicu oleh kebutuhan untuk membebaskan sejarah bangsa dari bias kolonial, penyederhanaan narasi politik, dan penyeragaman materi kurikulum warisan Orde Baru. Buku ini menjadi sumber inspirasi dan fondasi intelektual yang sangat relevan dalam beberapa hal:
- Membebaskan Sejarah dari Bias Kolonial dan Negara
Proyek penulisan ulang harus belajar dari kritik Purwanto tentang betapa menyejarah sumber dan narasi resmi dapat membatasi pemahaman sejarah bangsa. Kunci utama adalah keterbukaan terhadap sumber lisan, arsip lokal, dan narasi rakyat. - Menuntut Inklusivitas dan Partisipasi Publik
Purwanto menuntut agar penulisan ulang sejarah tidak sekadar menjadi proyek elite/tim resmi pemerintah, melainkan membuka ruang partisipatif dan melibatkan pelaku sejarah, komunitas minoritas, dan masyarakat luas. - Mengakui Luka Sejarah dan Menyajikan Narasi Alternatif
Sejarah bukan hanya cerita kemenangan dan kehebatan bangsa, tapi juga kisah kegagalan, konflik, serta dinamika sosial yang membentuk identitas Indonesia. Penulisan ulang yang benar harus berani membuka dan mengakui bagian kelam masa lalu. - Mendukung Pendidikan Sejarah Kritis untuk Generasi Muda
Buku ini layak dijadikan materi ajar pendidikan sejarah, agar generasi muda mampu berpikir kritis, tidak menerima mentah narasi tunggal, dan berani mencari fakta serta sumber alternatif. - Mendorong Proses Uji Publik dan Koreksi Terbuka
Gagasan penulisan ulang harus selalu melalui diskusi, debat akademis, dan uji publik agar tidak terjebak ulang pada penulisan sejarah sebagai dokumen “resmi” pemerintah semata.
Manfaat Buku
- Sebagai sumber utama penelitian sejarah kritis di Indonesia
- Referensi utama penulisan ulang sejarah dan kebijakan pendidikan
- Panduan berpikir reflektif bagi guru, penulis, mahasiswa, dan peneliti
- Inspirasi pengembangan kurikulum sejarah kritis inklusif
Opini Reviewer
Sebagai sejarawan dan pembaca, saya menilai Gagalnya Historiografi Indonesiasentris?! sebagai karya yang wajib dibaca oleh siapapun yang ingin memahami jantung dan polemik penulisan sejarah di Indonesia. Buku ini menuntun pembaca keluar dari zona nyaman narasi sejarah masa lalu—menantang untuk berani membuka ruang refleksi dan koreksi, menuliskan sejarah secara lebih jujur, adil, dan merepresentasikan realitas yang beragam.
Di tengah gencarnya inisiatif penulisan ulang sejarah Indonesia, buku ini menjadi pengingat bahwa penulisan sejarah bukan sekadar pencatatan fakta dan glorifikasi, melainkan usaha membangun memori bangsa. Hanya dengan keberanian dekonstruksi, pelibatan banyak pihak, dan keterbukaan akan koreksi sejarah, bangsa Indonesia dapat memiliki historiografi yang benar-benar milik bersama dan bermanfaat untuk masa depan.
FAQs
Apa yang dimaksud dengan historiografi Indonesiasentris yang dibahas Bambang Purwanto?
Historiografi Indonesiasentris adalah upaya penulisan sejarah dengan menempatkan perspektif, pengalaman, dan sumber asli Indonesia sebagai dasar utama. Bambang Purwanto mengkritik bahwa pendekatan ini terkadang masih terjebak bias, glorifikasi, dan kurang menggali dinamika kritis serta inklusif pengalaman rakyat Indonesia.
Mengapa Bambang Purwanto mengkritik penulisan sejarah Indonesia?
Ia menyoroti kegagalan penulisan sejarah yang terlalu bergantung pada narasi elit, sumber kolonial, dan “cerita resmi” pemerintah. Ia menuntut penulisan sejarah yang lebih berani membuka ruang dialog, menampilkan luka sejarah, serta melibatkan masyarakat dan sumber alternatif dalam prosesnya.
Apa relevansi buku ini terhadap penulisan ulang sejarah nasional di tahun 2025?
Buku ini menjadi sumber refleksi utama agar proses penulisan ulang sejarah Indonesia tidak mengulangi bias lama, menciptakan sejarah inklusif, membuka wacana koreksi bersama, serta lebih jujur dan kontekstual terhadap perjalanan bangsa.
Siapa yang sebaiknya membaca buku ini?
Mahasiswa sejarah, dosen, peneliti, guru, penulis, aktivis HAM, penyusun kurikulum pendidikan, dan masyarakat umum yang ingin memahami sejarah secara kritis dan komprehensif.
Bagaimana agar penulisan sejarah Indonesia menjadi lebih objektif dan adil?
Libatkan beragam pihak dalam proses penulisan, manfaatkan sumber alternatif, buka ruang kritik dan diskusi publik, serta jangan takut menampilkan kenyataan pahit atau konflik dalam sejarah.
Penutup
Buku Gagalnya Historiografi Indonesiasentris?! karya Bambang Purwanto adalah fondasi penting dalam pelaksanaan penulisan ulang sejarah Indonesia yang lebih kritis dan inklusif. Dengan menjadikan buku ini sebagai referensi utama, masyarakat dan pemerintah dapat mengawal proses penulisan sejarah agar tidak jatuh pada bias kembali, dan bersama membangun masa depan bangsa yang sadar akan realitas serta sejarah kolektifnya.
Review Buku Gagalnya Historiografi Indonesiasentris
Dalam sejarah penulisan di Indonesia, terdapat tarik-ulur yang dinamis antara narasi yang diciptakan oleh pemerintah, elit politik, serta kecenderungan akademis dan aspirasi masyarakat. Dengan memberikan review buku Gagalnya Historiografi Indonesiasentris?! karya Bambang Purwanto ini, harapannya bisa menjadi tonggak penting dalam memahaminya lebih lanjut.
URL: https://bagitautan.com/review-buku-gagalnya-historiografi-indonesiasentris/
Author: Admin Berbagi
5
Pros
- Refleksi Kritis dan Berani: Buku ini membongkar keterbatasan penulisan sejarah Indonesia yang selama ini terjebak pada narasi resmi pemerintah, elit, serta kepentingan politik. Penulis mengajak pembaca lebih berani membuka ruang bagi narasi alternatif—pengalaman minoritas, konflik, dan luka sejarah.
- Referensi Akademik Utama: Buku ini dianggap rujukan wajib bagi mahasiswa, peneliti, dan semua yang terlibat dalam penulisan sejarah serta penulisan ulang kurikulum sejarah Indonesia.
- Mendorong Inklusivitas: Menyoroti pentingnya menggunakan sumber lisan, arsip lokal, dan narasi komunitas—tidak hanya bergantung pada dokumen kolonial atau penceritaan elite.
- Memancing Dialog Publik: Purwanto menekankan perlunya partisipasi masyarakat dan dialog terbuka dalam proses penulisan sejarah, bukan sekadar proyek tertutup elit.
- Relevan dengan Proses Penulisan Ulang Sejarah 2025: Buku ini sangat relevan dan dijadikan inspirasi dalam diskusi penulisan ulang sejarah nasional—menghindari bias kolonial dan narasi tunggal yang menutup luka bangsa.
- Memotivasi Pendidikan Sejarah Kritis: Materi buku cocok untuk menanamkan cara pikir kritis pada generasi muda agar tidak menerima narasi tunggal secara mentah-mentah.
- Mendorong Koreksi Terbuka: Ide-ide buku ini mengedepankan pentingnya koreksi, uji publik, dan diskusi akademik dalam penyusunan narasi sejarah yang objektif dan adil.
Cons
- Bahasa Akademis Cukup Berat: Gaya penulisan menggunakan metodologi dan istilah ilmiah sehingga lebih cocok untuk pembaca tingkat lanjut atau kalangan akademisi, bukan pembaca awam.
- Fokus pada Kritik dan Refleksi: Buku ini lebih menekankan refleksi, dekonstruksi, dan kritik historiografi daripada panduan praktis langsung untuk penulis pemula atau guru sejarah umum.
- Distribusi Kurang Luas: Edisi terbaru buku ini lebih mudah dijumpai di kampus dan toko buku pendidikan, belum tersebar secara luas di toko buku populer.
- Minim Contoh Narasi Alternatif Praktis: Buku memicu diskusi dan kritik, namun belum memberi peta jalan konkret cara menulis sejarah yang benar-benar inklusif dari awal hingga akhir.
Beberapa tautan yang terdapat pada konten ini mungkin merupakan tautan afiliasi. Kami mendapatkan komisi dari penyedia produk apabila Anda melakukan pembelian menggunakan tautan kami. Di lain pihak, Anda tidak akan dikenakan biaya tambahan apapun.
Admin Berbagi
