Pernah merasa bersalah atas sesuatu yang kamu yakini benar di masa lalu? Itulah inti dari An Artist of the Floating World, novel kedua Kazuo Ishiguro yang terbit tahun 1986, jauh sebelum ia memenangkan Nobel Sastra. Novel ini bukan sekadar novel sejarah tentang Jepang pascaperang. Ini adalah cermin retak yang memantulkan wajah siapa pun yang pernah menghindari tanggung jawab atas masa lalunya sendiri.
TL;DR
Siapa Masuji Ono, dan Kenapa Kamu Harus Peduli?
Kita diperkenalkan dengan Masuji Ono, seorang pelukis tua yang dulunya terkenal, sekarang dicurigai. Cerita berjalan di tahun 1948, tepat ketika Jepang sedang babak belur membangun ulang dirinya setelah kekalahan Perang Dunia II.
Ono bukan penjahat dalam garis besar. Ia justru “orang biasa” yang paling berbahaya: seseorang yang melakukan hal-hal keliru dengan keyakinan tulus. Di masa perang, ia mengalihkan bakat melukisnya dari menangkap keindahan malam ke membuat poster propaganda ultranasionalis. Kini, di dunia yang sudah berubah total, ia harus menghadapi konsekuensinya, meski ia sendiri belum sepenuhnya mengakuinya.
Kazuo Ishiguro dan Sihir Narator Tidak Jujur
Salah satu keistimewaan terbesar Kazuo Ishiguro dalam An Artist of the Floating World adalah cara ia membangun narator yang, secara halus, membohongi dirinya sendiri.

Ono bercerita dari sudut pandangnya sendiri. Tapi semakin jauh kamu membaca, semakin kamu sadar: ingatannya selektif. Ia sering meralat ceritanya sendiri di tengah jalan. Ia menghentikan narasi tepat sebelum bagian paling kelam. Dan ia selalu punya alasan yang “masuk akal” untuk setiap tindakan masa lalunya.
Ishiguro tidak pernah berteriak, “Ono sedang bohong!” Tapi ia memberi cukup celah agar pembaca bisa melihatnya sendiri. Efeknya jauh lebih menyesakkan daripada konfrontasi langsung.
Teknik ini Ishiguro namakan sebagai “unreliable narrator”, narator yang tidak bisa sepenuhnya dipercaya, bukan karena ia jahat, tapi karena ia terlalu manusiawi untuk jujur pada diri sendiri.
Novel Sejarah yang Terasa Sangat Personal
Sebagai novel sejarah berlatar Jepang pascaperang, An Artist of the Floating World merekam momen paling traumatik dalam sejarah modern Jepang. Kekalahan militer menghancurkan bukan hanya infrastruktur, tapi juga sistem nilai yang sudah ratusan tahun mengakar.
Yang membuat novel ini berbeda dari literatur Jepang pada umumnya adalah pendekatannya yang sunyi. Tidak ada ledakan emosi. Tidak ada konfrontasi dramatis. Kehancuran bangsa digambarkan lewat dialog minum teh yang kikuk, jeda panjang yang sarat makna, dan hal-hal kecil yang tidak terucapkan.
Beberapa benturan nilai yang terasa paling nyata dalam cerita ini:
| Dimensi | Ono (Generasi Lama) | Suichi & Ichiro (Generasi Baru) |
|---|---|---|
| Hierarki | Tunduk total pada tetua | Berani mengkritik dan menggugat |
| Kiblat Budaya | Samurai & nasionalisme | Popeye, The Lone Ranger, budaya pop Barat |
| Sejarah | Nostalgia & penghindaran | Tuntutan akuntabilitas |
| Identitas | Jepang imperial | Jepang modern yang sedang dibangun ulang |
Benturan ini bukan sekadar latar cerita. Ini adalah konflik batin Ono yang dimainkan di level domestik, terasa sangat nyata dan dekat.
“Dunia Mengambang”, Apa Artinya?
Judul An Artist of the Floating World merujuk pada distrik hiburan malam tradisional Jepang, kawasan geisha, kedai sake, dan kesenangan sesaat yang disebut ukiyo atau “dunia mengambang”. Di masa mudanya, Ono dididik mentornya, Mori-san, untuk melukis keindahan fana dunia ini.
Tapi Ono kemudian berkhianat pada “dunia mengambang”-nya sendiri. Ia meninggalkan estetika keindahan sesaat dan memilih melukis propaganda demi “tujuan yang lebih besar.” Tragisnya, setelah perang usai, tujuan besar itu terbukti hanya ilusi.

Ada satu adegan yang paling menyesakkan: Ono mendatangi apartemen Kuroda, mantan muridnya yang ia laporkan ke aparat selama perang, untuk meminta maaf. Ia disambut dengan penolakan dingin oleh murid Kuroda, Enchi. Tidak ada drama. Tidak ada tangisan. Hanya keheningan yang lebih menyakitkan dari kata-kata manapun.
Keluarga sebagai Arena Pertempuran Sunyi
Plot utama novel ini sebenarnya sederhana: Ono ingin memastikan pernikahan putri bungsunya, Noriko, berjalan lancar. Tapi masa lalunya mengancam prosesnya.
Yang membuat bagian ini menarik adalah bagaimana Ishiguro menggambarkan dinamika keluarga Jepang. Putri sulung Ono, Setsuko, selalu berbicara sopan, tapi setiap kalimatnya mengandung teguran terselubung. Ia tidak pernah berkata, “Ayah adalah beban.” Tapi itulah yang dimaksud setiap kali ia berbicara.
Demi Noriko, Ono akhirnya terpaksa melakukan hal yang paling ia hindari: mengakui kegagalannya di hadapan orang lain. Proses ini berjalan pelan, menyiksa, dan sangat jujur, persis seperti cara kita sendiri menghadapi kesalahan yang enggan kita akui.
Kenapa Novel Ini Relevan untuk Pembaca Indonesia?
Kamu tidak perlu tahu banyak tentang sejarah Jepang untuk menikmati An Artist of the Floating World. Tema besarnya universal:
- Bagaimana kita membenarkan tindakan masa lalu yang kini terasa salah?
- Seberapa jauh kita bersedia menipu diri sendiri demi mempertahankan harga diri?
- Kapan permintaan maaf benar-benar tulus, dan kapan ia hanya performa sosial?
Bagi pelajar dan mahasiswa yang sedang mendalami literatur Jepang atau novel sejarah dari perspektif psikologis, novel ini adalah bahan bacaan yang kaya. Bagi pembaca umum yang hanya ingin cerita yang bermakna, novel ini akan tinggal di kepalamu lama setelah halaman terakhir kamu tutup.
Paralel dengan The Remains of the Day
Bagi yang sudah membaca The Remains of the Day, kamu akan menemukan DNA yang sama di sini. Dua novel, dua narator berbeda negara, satu pelayan Inggris, satu pelukis Jepang, tapi keduanya terjebak dalam mekanisme yang identik: melebih-lebihkan kesetiaan pada sistem yang salah, lalu hidup seumur hidup dengan penyesalan yang tak pernah benar-benar diakui.
Ishiguro seakan berkata: ini bukan masalah Jepang, bukan masalah Inggris, ini masalah manusia.
Verdict: Layak Baca atau Tidak?
An Artist of the Floating World karya Kazuo Ishiguro adalah novel yang tidak terburu-buru, tidak berisik, dan tidak dramatis, tapi justru itulah kekuatannya. Ia membangun rasa tidak nyaman secara perlahan, seperti menyadari ada yang salah dalam percakapan yang tampak biasa-biasa saja.
Cocok untukmu jika:
- Kamu suka novel psikologis yang menuntut perhatian penuh
- Kamu tertarik pada literatur Jepang atau novel sejarah pascaperang
- Kamu ingin membaca karya Kazuo Ishiguro selain The Remains of the Day
Mungkin bukan untukmu jika:
- Kamu mencari plot yang cepat dan penuh aksi
- Kamu tidak nyaman dengan narasi yang sengaja ambigu
Tapi kalau kamu memutuskan untuk membacanya, beri waktu. Novel ini butuh kesabaran. Dan ia akan membayarnya dengan cara yang tidak kamu duga.
Sudah baca An Artist of the Floating World? Bagikan pendapatmu di kolom komentar, apakah kamu simpati pada Ono, atau justru sebaliknya?
Referensi
- https://keepingupwiththepenguins.com/an-artist-of-the-floating-world-kazuo-ishiguro/
- https://letterpressproject.co.uk/inspiring-older-readers/2018-10-30/an-artist-of-the-floating-world
- https://yamatomagazine.home.blog/2019/06/06/an-artist-of-the-floating-world-review-rebirth-is-as-beautiful-as-a-cherry-blossom/
Beberapa tautan yang terdapat pada konten ini mungkin merupakan tautan afiliasi. Kami mendapatkan komisi dari penyedia produk apabila Anda melakukan pembelian menggunakan tautan kami. Di lain pihak, Anda tidak akan dikenakan biaya tambahan apapun.
Admin Berbagi

