Contoh review buku yang efektif selalu dimulai dari satu hal: jelas dulu apa yang sedang kamu ulas, Fiksi atau Nonfiksi. Keduanya sama-sama “buku”, tapi cara menilai, menulis, dan menjaga spoiler itu beda jauh.
Apa Itu Review Buku?
Review buku adalah ulasan yang mencakup identitas buku, ringkasan isi, analisis kritis, hingga kesimpulan dan rekomendasi. Di Indonesia, istilah review, resensi, dan ulasan sering dipakai campur-aduk; kalau ingin tahu bedanya lebih detail, bisa cek panduan lengkap di artikel tentang perbedaan review, resensi, dan ulasan buku.
Kalau kamu menulis untuk internet, biasanya format yang paling fleksibel adalah review: tidak seformal resensi, tapi tetap rapi dan enak dibaca. Review yang ditulis setelah membaca keseluruhan isi buku akan terasa lebih jujur, reflektif, dan argumentatif.
Fokus Utama: Mengulas Fiksi vs Nonfiksi
Di bagian ini, kita bedah apa yang harus kamu perhatikan saat menulis contoh review buku fiksi dan nonfiksi. Di bawah ini adalah perbandingan review buku fiksi vs nonfiksi

1. Fokus Utama Review Buku Fiksi
Dalam fiksi (novel, cerpen, roman, fantasi, thriller, dll.), fokusmu ada pada pengalaman membaca dan kualitas cerita.
Hal yang sebaiknya kamu sorot sebagai fokus utama review buku fiksi adalah:
- Alur dan struktur cerita: Apakah alurnya maju, mundur, campuran? Apakah pacing terasa lambat, pas, atau terlalu cepat?
- Tokoh dan perkembangan karakter: Karakter terasa hidup atau datar? Ada perkembangan emosional atau mental yang jelas?
- Dunia cerita dan latar: Setting (waktu, tempat, suasana) kuat dan meyakinkan, atau terasa tempelan saja?
- Tema dan pesan: Nilai moral, isu sosial, atau gagasan yang diangkat; seberapa dalam dieksplor?
- Gaya bahasa dan dialog: Apakah bahasa mengalir, puitis, kaku, terlalu bertele-tele, atau justru sangat sinematik?
- Pengalaman membaca: Seberapa “nagih”? Apakah bikin kamu mikir, terharu, atau hanya lewat begitu saja?
Khusus untuk fiksi, yang paling sering “dihukum” pembaca adalah spoiler, jadi teknik menulis review tanpa spoiler jadi penting banget. Untuk panduan lebih detail, kamu bisa mengacu ke artikel cara mereview buku tanpa spoiler.
2. Fokus Utama Review Buku Nonfiksi
Pada nonfiksi (self-help, bisnis, sejarah, esai, sains populer, buku pelajaran, dll.), fokusmu pindah ke akurasi, kejelasan, dan kebermanfaatan isi.
Hal yang sebaiknya kamu sorot sebagai fokus utama review buku nonfiksi adalah:
- Tujuan dan sasaran buku: Buku ini ingin apa? Menginspirasi, mengajarkan skill, mengulas sejarah, atau menyajikan riset?
- Struktur dan alur argumentasi: Bab-babnya runtut atau lompat-lompat? Argumen dan contoh terasa logis atau hanya opini?
- Kedalaman dan akurasi informasi: Penulis pakai data, studi, referensi, atau hanya cerita pribadi?
- Kegunaan praktis: Ada langkah, tips, atau kerangka yang bisa langsung dipraktikkan pembaca?
- Kesesuaian untuk pembaca: Cocok untuk pemula atau pembaca lanjutan? Butuh latar belakang tertentu atau tidak?
- Gaya penyampaian: Apakah bahasanya terlalu teknis, justru terlalu dangkal, atau pas untuk target pembaca?
Di nonfiksi, spoiler tidak sepenting di fiksi; yang dicari orang biasanya manfaat isi dan seberapa bisa buku tersebut menjawab masalah mereka.
3. Ringkasan Perbedaan Fokus
| Aspek | Fiksi (Novel, Cerpen) | Nonfiksi (Self-help, Sejarah, dsb.) |
|---|---|---|
| Tujuan pembaca | Hiburan, emosi, pengalaman imajinatif. | Pengetahuan, wawasan, solusi praktis. |
| Fokus review | Alur, tokoh, latar, tema, gaya bahasa, atmosfer. | Akurasi, struktur, kedalaman, kejelasan, manfaat. |
| Sensitivitas spoiler | Sangat sensitif, terutama genre misteri/thriller. | Relatif rendah, lebih penting menjelaskan manfaat. |
| Nada tulisan | Bisa lebih naratif dan emosional. | Cenderung lebih analitis dan sistematis. |
| Kriteria utama | Seberapa memuaskan sebagai cerita. | Seberapa membantu dan dapat dipercaya sebagai sumber informasi. |
Template Penilaian Review Buku Fiksi (Siap Pakai)
Gunakan template penilaian review buku ini sebagai rubrik lengkap setiap kali kamu menulis contoh review buku fiksi.
A. Identitas dan Pembuka
Identitas Buku
Judul:
Penulis:
Penerbit & Tahun Terbit:
Jumlah Halaman:
Genre:
Pembuka (Hook)
2 sampai 3 kalimat: kenapa kamu tertarik membaca buku ini, relevansinya denganmu, atau konteks singkatnya.
B. Ringkasan Tanpa Spoiler
- 1 sampai 2 paragraf:
- Perkenalkan tokoh utama dan konflik awal.
- Sebutkan premis cerita (apa yang dipertaruhkan) tanpa memberi tahu akhir cerita.
Silakan acu panduan cara mereview buku pada artikel kami sebelumnya.
C. Analisis Unsur Fiksi
- Alur dan Struktur: Bagaimana pola alurnya, seberapa rapi transisi antar adegan.
- Tokoh dan Penokohan: Seberapa kuat motivasi tokoh, perkembangan, dan dinamika antar karakter.
- Latar dan Dunia Cerita: Kekuatan penggambaran tempat, waktu, budaya, serta atmosfer.
- Tema dan Pesan: Isu utama apa yang diangkat, seberapa eksplisit atau subtil penyampaiannya.
- Gaya Bahasa dan Sudut Pandang: Narasi orang pertama/kedua/ketiga, dialog, metafora, dan irama kalimat.
D. Kelebihan dan Kekurangan
- Kelebihan:
- Poin 1: jelaskan secara spesifik, misalnya “pembangunan karakter utama yang pelan tapi konsisten”
- Poin 2: (tambahkan sesuai pengamatanmu)
- Kekurangan:
- Poin 1: misalnya “pacing di tengah novel terasa melambat”
- Poin 2: (tambahkan sesuai pengamatanmu)
E. Penilaian Akhir dan Rekomendasi
- Penilaian singkat (1 paragraf) tentang pengalaman membaca.
- Rekomendasi pembaca: cocok untuk siapa, usia berapa, dan kapan buku ini paling pas dibaca.
- Opsi: skor (misalnya 1 sampai 5 bintang) atau rating di akhir.
Template Penilaian Review Buku Nonfiksi (Siap Pakai)
Sekarang versi lengkap untuk nonfiksi. Struktur dasarnya mirip resensi, tapi dengan fokus kuat ke manfaat.
A. Identitas dan Konteks
Identitas Buku
Judul:
Penulis:
Penerbit & Tahun Terbit:
Jumlah Halaman:
Kategori/Topik:
Konteks dan Tujuan Buku
Buku ini membahas apa?
Masalah apa yang ingin dipecahkan? Untuk siapa buku ini ditulis?
B. Ringkasan Isi Terarah
- 1 sampai 3 paragraf berisi:
- Garis besar tiap bagian atau bab utama.
- Ide sentral dan kerangka pikir penulis.
- Contoh singkat gagasan penting.
C. Analisis Kualitas Isi
- Struktur dan Keteraturan: Apakah bab-babnya runtut dan mudah diikuti?
- Kedalaman dan Akurasi: Apakah penulis mendukung argumen dengan data, referensi, dan contoh yang relevan?
- Keterbacaan dan Gaya Bahasa: Apakah buku mudah dipahami oleh target pembaca?
- Relevansi dan Manfaat: Seberapa aplikatif ide dalam buku ini untuk kehidupan atau pekerjaan pembaca?
D. Kelebihan dan Kekurangan
- Kelebihan:
- Poin 1: misalnya “banyak studi kasus lokal yang dekat dengan pembaca Indonesia”
- Poin 2: (tambahkan sesuai pengamatanmu)
- Kekurangan:
- Poin 1: misalnya “kurang referensi terbaru setelah tahun 2020”
- Poin 2: (tambahkan sesuai pengamatanmu)
E. Penilaian Akhir dan Rekomendasi
- Kesimpulan pendek: apakah buku ini layak dibaca, untuk tujuan apa.​
- Rekomendasi: siapa yang paling diuntungkan membaca buku ini (pelajar, pekerja, orang yang baru tertarik topik, dll.).​
- Opsi: skor akhir atau rating singkat.​
Contoh Template Review Buku Terisi: Buku Fiksi
Berikut satu contoh pengisian template review buku fiksi (judul fiktif agar aman hak cipta, tapi gaya penilaiannya realistis dan bisa kamu tiru sebagai contoh review buku).​
Contoh Template Penilaian Review Buku Fiksi (Terisi): Cantik Itu Luka
1. Identitas Buku
- Judul: “Cantik Itu Luka“
- Penulis: Eka Kurniawan
- Penerbit dan Tahun: Gramedia Pustaka Utama (Edisi Cetak Ulang)
- Halaman: ± 500 halaman
- Genre: Realisme Magis, Fiksi Sejarah
2. Pembuka (Hook)
Kalimat pembukanya adalah salah satu yang paling ikonik dalam sastra Indonesia modern: “Sore itu, di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian.” Kalimat ini langsung mengunci pembaca, menjanjikan kisah yang tidak masuk akal namun disampaikan dengan nada senyata laporan cuaca.
3. Ringkasan Tanpa Spoiler
Novel ini membentang panjang mengikuti riwayat Dewi Ayu, pelacur paling terkenal di Halimunda, dan keempat anak perempuannya. Tiga anak pertamanya cantik jelita dan hidupnya hancur oleh tragedi, sementara anak keempatnya lahir sangat buruk rupa dan diberi nama ironis: Cantik. Lewat nasib keluarga ini, Eka Kurniawan menyindir sejarah panjang kekerasan di Indonesia, mulai dari kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, masa revolusi, hingga pembantaian komunis, di mana kecantikan sering kali menjadi kutukan alih-alih anugerah.
4. Analisis Unsur Fiksi
- Alur dan Struktur: Alurnya maju-mundur dengan cakupan waktu puluhan tahun. Meski kompleks, Eka menjahit setiap potongan masa lalu (flashback) dengan rapi sehingga pembaca perlahan paham silsilah kutukan yang menimpa keluarga Dewi Ayu.
- Tokoh dan Penokohan: Dewi Ayu adalah karakter yang fenomenal—pragmatis, vulgar, kuat, dan menolak dikasihani meski hidupnya tragis. Anak-anaknya (Alamanda, Adinda, Maya Dewi, dan Cantik) mewakili berbagai sisi trauma perempuan dalam sejarah patriarki.
- Latar dan Dunia Cerita: Halimunda adalah kota fiktif di pesisir selatan Jawa yang digambarkan begitu hidup, mistis, tapi juga brutal. Kota ini terasa seperti karakter tersendiri yang menyaksikan sejarah berdarah Indonesia.
- Tema dan Pesan: Tema utamanya adalah bagaimana kekuasaan dan nafsu mengeksploitasi kecantikan (dan perempuan). Novel ini juga menyindir bahwa sejarah sering kali merupakan hantu yang tidak pernah benar-benar mati.
- Gaya Bahasa: Menggabungkan realisme magis dengan gaya bercerita lisan (seperti dongeng) yang kadang vulgar dan penuh hiperbola, membuat tragedi mengerikan terasa absurd dan kadang jenaka.
5. Kelebihan
- Kemampuan luar biasa meramu sejarah Indonesia yang kelam dengan mitos hantu yang menghibur.
- Karakter perempuan yang tidak pasif, melainkan petarung dengan cara mereka sendiri.
- Salah satu karya sastra Indonesia yang paling diakui secara internasional (diterjemahkan ke berbagai bahasa).
6. Kekurangan
- Banyak adegan kekerasan eksplisit dan seksual yang mungkin membuat tidak nyaman sebagian pembaca (butuh trigger warning).
- Silsilah keluarga dan hubungan antartokoh sangat rumit, kadang membingungkan jika tidak membaca dengan teliti.
7. Penilaian Akhir dan Rekomendasi
“Cantik Itu Luka” adalah bacaan wajib bagi pecinta sastra yang ingin melihat sejarah Indonesia dari sudut pandang yang gila, mistis, dan brutal. Sangat direkomendasikan untuk pembaca dewasa (21+) yang tahan dengan deskripsi vulgar dan siap “dipusingkan” oleh plot yang kaya. Rating pribadi: 4,8 dari 5 bintang.

Contoh Review Buku Fiksi: Saat Kecantikan Menjadi Kutukan (Review “Cantik Itu Luka”)
Membaca “Cantik Itu Luka” rasanya seperti mendengarkan dongeng nenek moyang yang sedang mabuk: absurd, mengerikan, tapi entah kenapa terasa sangat jujur. Eka Kurniawan membuka novel ini dengan hentakan keras—Dewi Ayu bangkit dari kubur setelah 21 tahun mati, hanya untuk menengok anaknya yang buruk rupa bernama Cantik.
Novel ini bukan sekadar cerita hantu. Lewat kota fiktif Halimunda, Eka memotret luka sejarah Indonesia. Kita diajak melihat bagaimana kecantikan ketiga anak gadis Dewi Ayu (Alamanda, Adinda, Maya Dewi) justru membawa petaka bagi hidup mereka di tengah pergolakan zaman—mulai dari brutalnya tentara Jepang hingga ketegangan politik ’65. Di sini, “cantik” bukanlah anugerah, melainkan magnet bagi nafsu penguasa dan kekerasan laki-laki.
Kekuatan utama buku ini ada pada gaya bahasanya yang memadukan realisme magis a la Gabriel Garcia Marquez dengan cerita silat dan horor lokal. Eka menceritakan pemerkosaan, pembunuhan, dan hantu komunis dengan nada yang datar, kadang jenaka, yang justru membuat kengeriannya makin terasa. Tokoh Dewi Ayu sendiri adalah salah satu karakter perempuan paling kuat dalam sastra kita: seorang pelacur yang memandang hidup dengan pragmatisme dingin, menolak menjadi korban meski dunia terus menginjaknya.​
Namun, buku ini jelas bukan untuk semua orang. Adegan eksplisit dan incest yang mewarnai beberapa bagian mungkin akan memicu rasa mual. Alurnya yang melompat-lompat menuntut konsentrasi penuh agar tidak tersesat dalam silsilah keluarga yang rumit. Tapi jika kamu bisa melewati itu, “Cantik Itu Luka” menawarkan pengalaman membaca yang epik, gila, dan tak terlupakan tentang bagaimana sejarah menghantui kita, harfiah maupun kiasan.
Dapatkan diskon 25% dengan membeli novel Cantik Itu Luka melalui tautan ini.
Contoh Template Review Buku Terisi: Buku Nonfiksi
Berikut contoh pengisian template review buku nonfiksi (judul juga fiktif, tapi pola penilaiannya bisa kamu adaptasi untuk buku nyata sebagai contoh review buku nonfiksi).​
Contoh Template Penilaian Review Buku Nonfiksi (Terisi): Atomic Habits
1. Identitas Buku
- Judul: “Atomic Habits: Perubahan Kecil yang Memberikan Hasil Luar Biasa”
- Penulis: James Clear
- Penerbit & Tahun: Gramedia Pustaka Utama (Edisi Bahasa Indonesia)
- Halaman: ± 350 halaman
- Kategori: Self-Improvement, Psikologi, Produktivitas
2. Konteks dan Tujuan Buku
Buku ini lahir dari premis bahwa perubahan besar dalam hidup tidak datang dari satu tindakan drastis, melainkan dari gabungan ratusan keputusan kecil (atom) yang dilakukan konsisten. James Clear ingin mematahkan mitos bahwa kesuksesan butuh motivasi besar; ia justru menawarkan sistem praktis untuk membentuk kebiasaan baik dan membuang kebiasaan buruk tanpa bergantung pada willpower semata.​
3. Ringkasan Isi Terarah
Clear membagi strateginya ke dalam “Empat Hukum Perubahan Perilaku”: Menjadikannya Terlihat (Cue), Menjadikannya Menarik (Craving), Menjadikannya Mudah (Response), dan Menjadikannya Memuaskan (Reward).
Salah satu ide sentral yang paling kuat adalah konsep “Perubahan Identitas”. Alih-alih menetapkan tujuan “saya ingin lari maraton” (hasil), Clear menyarankan untuk mengubah identitas menjadi “saya adalah seorang pelari”. Dengan mengubah cara pandang terhadap diri sendiri, kebiasaan akan mengikuti secara alami. Ia juga memperkenalkan “Aturan 1%”—menjadi 1% lebih baik setiap hari yang secara matematis akan menghasilkan peningkatan 37 kali lipat dalam setahun.
4. Analisis Kualitas Isi
- Struktur dan Keteraturan: Sangat sistematis. James Clear menstrukturkan buku ini layaknya manual teknis namun dengan narasi yang luwes. Setiap bab ditutup dengan ringkasan poin (“Chapter Summary”) yang memudahkan pembaca mengingat inti sari.​
- Kedalaman dan Akurasi: Buku ini tidak hanya berisi opini motivasi, tetapi didukung oleh riset biologi, neurosains, dan psikologi perilaku. Konsep seperti “Loop Kebiasaan” (Habit Loop) dijelaskan dengan landasan ilmiah yang kuat namun mudah dicerna.​
- Keterbacaan: Gaya bahasanya lugas, to-the-point, dan penuh analogi yang relevan (misalnya: analogi es batu yang mencair untuk menjelaskan Plateau of Latent Potential). Terjemahan bahasa Indonesianya pun cukup mengalir dan tidak kaku.
- Relevansi dan Manfaat: Sangat aplikatif. Konsep seperti “Habit Stacking” (menumpuk kebiasaan baru di atas kebiasaan lama) bisa langsung dipraktikkan detik itu juga oleh siapa saja, dari mahasiswa hingga CEO.​
5. Kelebihan
- Fokus pada sistem, bukan sekadar tujuan (goals). Ini pendekatan yang menyegarkan karena tujuan sering kali sifatnya sementara.​
- Banyak istilah yang “lengket” di kepala dan mudah diingat, seperti habit stacking, rule of two minutes, dan goldilocks rule.​
- Menyediakan template dan cheat sheet yang bisa diunduh (terkadang disediakan link di dalam buku), menjadikannya buku kerja yang interaktif.
6. Kekurangan
- Bagi pembaca yang sudah khatam buku-buku Charles Duhigg (The Power of Habit), beberapa konsep dasar mungkin terasa repetitif atau sekadar pengemasan ulang.​
- Beberapa contoh kasus terlalu berpusat pada konteks budaya Barat atau dunia olahraga atletik, yang mungkin butuh penyesuaian untuk relevansi pembaca umum di Indonesia.
7. Penilaian Akhir dan Rekomendasi
“Atomic Habits” adalah kitab suci bagi siapa pun yang merasa stuck dengan resolusi tahunan yang selalu gagal. Buku ini tidak menjual mimpi, tapi menjual “alat tukang” untuk membongkar pasang perilaku kita. Sangat direkomendasikan untuk Anda yang ingin membangun rutinitas baru—baik itu membaca buku, olahraga, atau sekadar berhenti main HP sebelum tidur. Rating pribadi: 5 dari 5 bintang.​

Contoh Review Buku Nonfiksi: Membangun Hidup Lewat Recehan Kebiasaan (Review “Atomic Habits”)
Pernahkah Anda merasa gagal karena tidak punya motivasi? James Clear dalam “Atomic Habits” justru bilang: lupakan motivasi, perbaiki sistem Anda. Buku ini hadir sebagai antitesis dari nasihat pengembangan diri klise yang menyuruh kita “bermimpi besar”. Sebaliknya, Clear menyuruh kita berpikir sekecil mungkin—seukuran atom.​
Inti buku ini berputar pada empat hukum perubahan perilaku yang dirancang untuk memanipulasi psikologi kita sendiri demi kebaikan. Saya pribadi sangat terbantu dengan konsep “Aturan Dua Menit”—jika ingin membangun kebiasaan membaca, jangan targetkan 1 jam, tapi cukup “buka buku dan baca 1 halaman” yang hanya butuh 2 menit. Tujuannya bukan hasil bacaannya, tapi muncul-nya kita untuk melakukan kebiasaan itu.​
Keunggulan utama Atomic Habits adalah ia sangat “actionable”. Berbeda dengan buku motivasi yang membakar semangat tapi bingung harus mulai dari mana, buku ini memberi langkah step-by-step. Penjelasan tentang bagaimana lingkungan (seperti menaruh buah di meja untuk memicu makan sehat) lebih kuat daripada tekad, adalah tamparan keras yang menyadarkan.
Meski begitu, buku ini mungkin terasa agak lambat di bagian tengah bagi pembaca yang suka fast-paced. Beberapa anekdot tentang tim sepeda Inggris atau rumah sakit mungkin terasa terlalu panjang. Namun, kesabaran membaca itu terbayar lunas dengan bab tentang “Melacak Kebiasaan” yang memberikan kepuasan visual.​
Kesimpulannya, Atomic Habits adalah buku wajib baca setidaknya sekali seumur hidup. Ia bukan buku yang sekali baca lalu simpan, tapi buku manual yang akan Anda buka kembali setiap kali hidup terasa berantakan. Jika Anda lelah dengan motivasi kosong, buku ini adalah jawabannya.
Jika Anda tertarik dengan buku ini, Anda bisa mendapatkan buku Atomic Habits di sini.
Contoh Review Buku Lengkap yang Siap Dibaca
Berikut 2 contoh review buku lengkap yang formatnya bisa langsung kamu tiru untuk blog atau tugas. Struktur dan nadanya sengaja dibuat santai tapi tetap sistematis agar cocok dengan intent “contoh review buku”.
1. Contoh Review Buku Fiksi: Novel Keluarga (Fiktif)
Judul review: Pulang yang Tidak Pernah Benar-benar Selesai (Review “Malam di Kota Tiga Lampu”)
“Malam di Kota Tiga Lampu” adalah salah satu novel keluarga yang terasa sangat Indonesia: sunyi, hangat, tapi penuh hal yang tidak pernah diucapkan. Sejak halaman pertama, kita diajak menyimak Arga yang kembali ke kota kecilnya setelah “gagal” merantau, dan di sana ia menemukan bahwa rumah yang ia tinggalkan tidak lagi sama.
Premis novel ini sederhana: anak sulung pulang, ketemu ayah keras dan adik yang menyimpan marah. Tapi kekuatan cerita justru ada di cara penulis mengurai konflik tersebut sedikit demi sedikit, lewat percakapan kecil di meja makan, kunjungan ke jembatan tua, dan ingatan-ingatan yang muncul di tengah malam. Penulis tidak buru-buru membocorkan alasan semua orang menyimpan jarak; pembaca diajak menebak sambil mengenali pola khas keluarga yang lebih sering diam daripada membicarakan masalah.​
Sebagai karya fiksi, novel ini kuat di penokohan. Arga bukan sosok yang heroik, tapi justru rapuh dan sering ragu membuat keputusan, dan itu membuatnya terasa sangat manusiawi. Sang ayah digambarkan keras tapi tidak karikatural; semakin jauh kita membaca, semakin jelas bahwa keras kepala ini berasal dari ketakutan dan rasa bersalah. Adik Arga, yang awalnya tampak hanya “si pemberontak”, perlahan memperlihatkan sisi lain yang membuat pembaca ingin memeluknya.​
Setting Kota Tiga Lampu juga bukan sekadar latar tempelan. Deskripsi jalanan sepi, pasar yang mulai lengang, dan warung kopi yang sama-sama mereka datangi sejak kecil menambah lapisan nostalgia di setiap adegan. Tanpa perlu menyebut nama kota nyata, pembaca akan otomatis membayangkan kampung halaman masing-masing.​
Di sisi lain, pembaca yang lebih suka cerita cepat mungkin akan sedikit diuji dengan ritme bagian awal yang tenang. Penulis tampak sengaja memberi ruang untuk membangun suasana sebelum konflik memuncak. Untungnya, setelah memasuki pertengahan buku, tensi emosi naik konsisten hingga akhir, sehingga perjalanan ini terasa sepadan.​
Secara keseluruhan, “Malam di Kota Tiga Lampu” cocok untuk kamu yang mencari bacaan reflektif tentang keluarga dan pulang. Novel ini tidak menawarkan plot twist bombastis, tetapi menghadirkan semacam kelegaan pelan ketika tokoh-tokohnya akhirnya berani menamai luka masing-masing. Kalau kamu menyukai novel yang lebih fokus ke karakter daripada aksi, buku ini patut masuk daftar bacaan.​
2. Contoh Review Buku Nonfiksi: Pengembangan Diri (Fiktif)
Judul review: Fokus di Tengah Banjir Notifikasi (Review “Kerja Fokus di Era Serba Notifikasi”)
Kalau kamu merasa hari-harimu habis untuk cek chat, scroll timeline, dan memantau email, “Kerja Fokus di Era Serba Notifikasi” mungkin akan terasa sangat relevan. Dimas Hartanto mencoba menjelaskan, dengan bahasa sederhana, mengapa otak kita begitu mudah terdistraksi dan apa yang bisa kita lakukan agar sedikit lebih waras di dunia serba online ini.​
Buku ini dibagi menjadi tiga bagian besar. Bagian pertama mengupas cara kerja perhatian: seberapa banyak hal yang bisa kita perhatikan sekaligus, kenapa multitasking itu ilusi, dan mengapa notifikasi kecil bisa membuat otak cepat lelah. Bagian kedua menyoroti desain aplikasi dan platform yang memang dibuat agar kita betah berlama-lama, mulai dari warna, suara notifikasi, sampai teknik “tarik-lepas” yang bikin kita penasaran. Bagian ketiga barulah masuk ke strategi praktis, seperti mengatur ulang notifikasi, membuat blok waktu tanpa gawai, dan merancang “ritual mulai kerja” yang lebih sehat.
Kelebihan utama buku ini adalah keterbacaannya. Penulis sering memakai contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: ikut grup chat kantor, komunitas, keluarga, sampai grup arisan yang tidak pernah sepi notifikasi. Banyak pembaca mungkin akan mengangguk sambil tertawa kecut karena merasa “ketahuan”. Setiap bab juga ditutup dengan ringkasan poin penting dan satu “eksperimen kecil” yang bisa langsung kamu coba minggu itu.
Dari sisi kedalaman, buku ini berada di level menengah. Penulis menyebut beberapa penelitian dan tokoh penting di bidang psikologi kognitif, tetapi tidak masuk terlalu teknis. Bagi pemula, ini justru menyenangkan karena tidak terasa seperti membaca jurnal ilmiah. Bagi pembaca yang sudah kenyang dengan buku produktivitas, beberapa ide mungkin terasa familiar, seperti konsep bekerja dalam blok waktu fokus dan membatasi aplikasi tertentu di jam-jam tertentu.​
Kekurangannya, buku ini terkadang terdengar terlalu yakin bahwa semua orang bisa mengatur notifikasi dengan bebas, padahal ada profesi yang memang dituntut untuk selalu “siaga”. Di bagian ini, penulis bisa saja memperkaya dengan contoh penyesuaian untuk profesi tertentu. Selain itu, referensi yang digunakan relatif berhenti di awal 2020-an, sehingga isu terbaru tentang kecanduan layar belum banyak disentuh.​
Meski begitu, “Kerja Fokus di Era Serba Notifikasi” tetap terasa seperti teman yang baik untuk kamu yang baru mulai menyadari bahwa hidupmu terlalu dikendalikan layar. Sebagai langkah awal, buku ini bisa membantumu membangun kesadaran dan memulai perubahan kecil. Kalau kamu mencari panduan super mendalam, mungkin butuh buku lanjutan, tapi sebagai pengantar, buku ini cukup solid.​
Kesimpulan
Dengan struktur di atas, kamu sudah punya perbandingan mendalam cara mengulas fiksi vs nonfiksi, dua template penilaian yang bisa langsung dipakai dan dimodifikasi, contoh terisi untuk masing-masing jenis buku, dan dua contoh review lengkap yang bisa kamu jadikan model gaya penulisan untuk blog, tugas, atau konten SEO bertema “contoh review buku”.
Beberapa tautan yang terdapat pada konten ini mungkin merupakan tautan afiliasi. Kami mendapatkan komisi dari penyedia produk apabila Anda melakukan pembelian menggunakan tautan kami. Di lain pihak, Anda tidak akan dikenakan biaya tambahan apapun.
Admin Berbagi

